Tarak tgl 11 oktober-10-2011
Buat Kakak Anazkia
Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Apa khabar Kakak? Perkenalkan salam kenal nama saya Farida. Bisa dipanggil Ida. Kakak saya mau tanya sebentar saja, di Malaysia kakak sedang belajar apa? Kakak di Malaysia baik-baik saja kan kakak? Semoga kakak di Malaysia selalu semangat kuliah di Malaysia.
Kakak, saya mau bicara tentang kampung Farida, kampung Farida gunungnya paling tinggi sekali, pantainya begitu indah, pasirnya putih, lautnya begitu indah. Kunang-kunag begitu berwarna warni. Itu saja yang Farida sampaikan kepada kakak Anazkia.
Pantun ini buat kakakku yang kusayang di Malaysia, yaitu Kak Anazkia
Burung putih duduk di gaga
Belum kutembak jatuh sendiri
Nona cantik ada di Malaysia
Belum kutanya datang sendiri
Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Dari Farida
Itu, Naz, surat dari Mbak Lessy?
Hehehe.. bukan, sama sekali bukan itu. Surat di atas adalah salah satu surat dari anak muridnya Pak Guru Lukman Hakim yang ada di Papua. Jadi, ceritanya beberapa bulan lalu, saya mengadakan lomba menulis surat gitu. Hadiahnya uang dan buku. Dari lomba itu juga yang mencetuskan saya untuk kembali mengadakan program hibah sejuta buku. Tentu saja, hadiah bukunya bukan dari hibah itu. Soale kalau buku untuk pemenang saya beli lain dan hanya untuk 3 pemenang saja

Terus apa hubungannya sama surat Mbak Lessy? Eh, apa, yah? Saya juga jadi mikir

Mikir simpel aja, surat dari Papua setelah nyangsang di Jakarta, baru sampai kemarin. Nah, pagi tadi pas saya keluar dari kamar mau ke kamar mandi, di meja tergeletak sebuah sampul berwarna coklat. Tertulis nama Anazkia di depannya, wealah mikir bungkusan dari mana? Setelah dilihat, rupanya dari Mbak Lessy. Karena penasaran, saya langsung membukanya. Di dalamnya, bener-bener ada surat dan sebuah saputangan yang masih terbungkus rapi. Duh, senengnya pagi-pagi dapet surat. Berarti, surat itu sampainya juga kemarin, tapi saya tak mengambilnya di kotak surat.
Ada 4 lembar surat dengan tulisan tersusun rapi. Kertasnya juga harum, sampaikan ruangan kamar saya juga harum dibuatnya. Baca surat dari Mbak Lessy saya seneng banget, jadi serasa kembali ke jaman remaja. Dulu kan saya suka surat-suratan dengan teman. Isi surat Mbak Lessy, keren. kalimat-kalimat penyemangat. Ah, pokoknya indah, deh baca suratnya

Setelah membaca surat Mbak Lessy, saya kembali membaca surat-surat dari Papua. Masih banyak, berlembar-lembar. Baca surat mereka, ada yang bikin tertawa termasuk surat dari Farida itu. Tapi, melihat surat-surat mereka saya sungguh haru dibuatnya. Ada yang menulis surat hanya di sebuah secarik kertas yang terpotong, sangat kecil sekali. Kategori surat ini adalah untuk kelas 4-6 SD. Ada banyak kepolosan di sana, di mana dunia anak-anak yang terbentuk dari alam bukan anak kecil bentukan dari benturan tekhnologi dan kemajuan zaman. Entahlah... Ternyata, kita masih bisa menemukan banyak kepolosan dan keluguan mereka. Selama membaca, saya inget sinetron2 kita yang menjual kemewahan dan lain-lain.
Dari sekian banyak surat, ada yang terlihat kemampuan menulisnya sangat bagus, bahkan untuk anak seusianya. Pola kalimat yang disusun indah dalam bait puisi, juga nalar dan imajinasi yang digunakan sungguh mebuat saya tercengang. Anak ini, kalau semangat menulisnya terus digojlok bukan tidak mungkin, dia akan menjadi penulis hebat dari Karas, Fakfak-Papua. Siapakah dia, kita lihat saja nanti siapa yang akan menang? Hehehe...
Saya jadi inget, pernah menulis timeline di twitter awal bulan desember lalu
Kenapa saya mengenali Kartini dan berjumpa dalam mimpi? yah karena sebelum-sebelumnya sering lihat di foto dan tulisannya Pak Guru. Apa dia yang menang? Hehehe...
Surat dari Papua, ada yang hanya ditulis pada secarik kertas yang terpotong. Ada juga kalimat-kalimat yang tak bisa saya pahami dan tak dapat terbaca
Ini surat dari Mbak Lessy, harum nian

Owh iya, saya dapet surat ini karena dulu pernah ikutan lomba yang xenophobia. Kata Mbak Lessy, ini adalah surat kedua. Sayangnya yang pertama nggak sampai. Makasih banyak, yah, Mbak. Seneng dapet surat
