 Namanya, Arif Lukman Hakim. Umurnya, tahun ini baru menginjak dua puluh lima tahun. Alumni Universitas Gajah Mada Fakultas, Ekonomi. Saya mengenalinya tak sengaja di kompasiana, saat menemukan tulisannya tentang keikutsertaannya menjadi relawan Merapi. Dari beberapa tulisan yang ada, dia adalah penulis artikel terbanyak, karena lamanya dia berada di kawasan Merapi, tepatnya Kali Adem.
Dari kompasiana, saya mengadd facebooknya. Kita hanya beberapa kali berinteraksi. Baik melalui komentar-komentar di status, juga inboxnya dia yang antusias sekali ingin melihat bukunya cepat terbit. Sesekali, saya melihat status-statusnya dan beberapa bulan lalu, ia menulis status kalau akan segera menuju ke Papua, mengikuti program Indonesia mengajar selama satu tahun. Dia, menjadi seorang guru SD di Papua sana. Sejak melihat ia menulis status akan ke Papua, setelah itu ia jarang terlihat kelibatnya di dunia maya. Hampir setiap saya menuju facebooknya, tak ada aktifitas apapun yang dilakukannya.
Suatu hari, saya kembali ke facebooknya dan melihat photo profile FBnya sudah berubah. Arif, bersama dengan beberapa anak berambut keriting, berkulit legam, berwajah riang sedang melompat di tepi laut dengan langit membiru dan awan putih menggumpal. Subhanallah... Saya langsung mengklik satu persatu foto album di FBnya juga membaca notes-notes yang ditulisnya. Arif, sudah berada di Fak-Fak-Papua. Setiap membaca tulisannya saya kadang tidak bisa berkomentar banyak.
Saat ditanya, "Pak Guru, itu siapa yang motret? Bawa tripod yah?"
"Owh, enggak, Mbak, saya nggak kepikiran bawa tripod, saya letakan kameranya di kursi. pake timer."
Ada kesedihan, bahagia dan haru yang menyatu. Kesedihan membaca ceritanya Arif, di mana saat ia bercerita sudah membawa semua perlengkapan internet yang katanya ada sinyal meskipun di pedalaman, nyatanya di tempat ia bertugas sama sekali tak ada sinyal. Untuk mendapatkan sinyal, ia harus ke kota yang harus meretas hutan dan lautan. Bahagia ketika melihat raut-raut wajah lugu dari anak-anak di daerah Papua tersebut. Sehinggalah saya wanti-wanti ke dia, untuk selalu mentag ceritanya kepada saya di facebook.
Saat di kota-kota besar gemerlapan dan sebagian mengeluhkan pemadaman, di bagian lain kota kecil lainnya, masih kegelapan malam hari, mereka kembali berkumpul di rumahnya Arif untuk mengulang kaji pelajaran
Beberapa hari ini, ia terlihat lebih sering online karena sedang berada di kota dan sekolahnya libur menjelang Ramadhan. Baru saya tahu, seperti apa sekolahannya murid-muridnya juga di mana letak sekolahnya yang berdekatan dengan laut.
Subhanallah... Itu dia sekolahannya
Sekolahnya terdiri dari dua bangunan, di mana dalam dua bangunan itu ada dua kelas. Dua kelas yang masing-masing terdiri dari kelas 1-6. Karena baru memasuki tahun ajaran baru, Arif hanya seorang diri mengajar (sampai saat ini) Kepala sekolah dan salah seorang guru sedang mudik ke Ambon. Kelas pertama, berisi murid-murid dari kelas satu-tiga. Kelas kedua berisi murid-murid dari kelas empat-enam. Kelas dibagi menjadi dua shif, shift pertama untuk kelas 1-3 bermula dari jam 07:00 sampai jam 10:00 pagi. Dilanjut kelas selanjutnya 4-6 sampai jam 14:30.
 Upacara di tepi laut
Tak bisa tidak, membaca cerita-ceritanya saya sering terpaku dengan air mata yang mengalir tanpa diminta, tak tahu harus berkomentar apa. Ternyata, betapa luasnya negeri kita dan masih membutuhkan Arif-Arif lainnya di seluruh ceruk-ceruk negeri. Semoga Arif senantiasa diberi kesehatan oleh-Nya. Amin, Insya Allah...
Dan saya selalu menunggu catatan-catatan kecilnya di facebook. Tapi malah tergiur pengen ke Papua  Jadi inget mau ada yang sponsorin lomba hadiahnya ke Papua. Semua foto, saya ambil dari facebooknya Arif, atas izinnya.
 | aku merinding liat sekolahnya di pinggir pantai.... indah bangett.... seandainya ada sekolah di jakarta yg seperti ini ^_^ |
 | moimoifati wrote on Jul 29, '11, edited on Jul 29, '11 aku merinding liat sekolahnya di pinggir pantai.... indah bangett.... seandainya ada sekolah di jakarta yg seperti ini ^_^  kalo di jakarta ada begini, pastinya dah jadi sekolah internasional. *merunduk sedih* |
 | senada dengan komentarku saat Kang Aji posting komik ttg anak rimba....
"Indonesia timur bukan hanya belum merdeka, namun justru masih terjajah"
#miris
|
 | Sangat menyentuh kisah perjuangan Pak Guru Arif Lukman Hakim. Semoga beliau banyak membawa manfaat di sana (di bumi Papua) dan menginspirasi jutaan orang di Indonesia untuk aktif membangun bangsa. aamiin.
Thanks for sharing, mbak Anaz. |
 | jadi inget laskar pelangi... |
 | indah banget semoga menghasilkan sesuatu yang indah pula |
 | hiks. ternyata masih banyak daerah yg tak tersentuh listrik yaa :( |
 | Saya juga pengen ikutan Indonesia Mengajar, mbak... Pengen banget... Cuma gak akan bisa masuk persyaratannya... Hiks... Hiks... Hiks.... |
 | senada dengan komentarku saat Kang Aji posting komik ttg anak rimba.  |
| semoga arif-arif yang lain segera bermunculan ya Mbak....
aku merinding deh baca kisah-nya...ada aja orang yang mau mengorbankan kehidupan yang "serba ada" menjadi "serba sulit"
salam hormat buat Mas Arif ya Mbak :) |
 | Allaahu akbar :( mbak anas saya juga suka salut sama mereka yang ikut program insonesia mengajar hebat betul mereka itu teman MP kita juga ada looh yg ikut program itu pemikirulung.mp.com
semoga barakah ilmunya Arif ya mbak anas,,, Aamiin |
 | tentang sekolahnya... indah sekali dekat laut, bak laskar pelangi dan serdadu kumbang ^_* semoga Allah meneguhkan kaki2 mereka untuk ttp berpijak di jlan ilmu |
 | Weh, baru nyadar ada tulisan yang kehapus di atas :(( gara2 utak-atik HTML tadi :(( |
 | Naz kenalin aku, salut deh sama dia.... |
 | Tahun 50-an beberapa mahasiswa UGM membuat program Pengerahan Tenaga Mahasiswa yg kemudian jadi program UGM, dan berubah jadi KKN. Kusnadi Hardjasumantri, mahasiswa FH UGM menjadi pelopornya, mengajar di NTT. Ketika pulang dia mengajak beberapa anak SMA muridnya utk sekolah di UGM. Salah satunya Adrianus Mooy, mantan Gubernur BI. Kalau tidak ada PTM, Adrianus mungkin tidak bisa melihat indahnya dunia diluar NTT |
 | salut... jadi malu sendiri kr msh terus fokus sama diri sendiri
makasih mba |
 | cawah wrote on Jul 29, '11 subhanallah...ikut haru campur bahagia.....semoga lebih byk lagi orang2 arif seperti arief dinegeri ini.... |
 | Hahahaha sukur nek ngaku ora *ganaz*.... |
 | bangga aha sebagai sama2 lulusan UGM hehe... |
 | deb, universitas gedung manten? |
 | hiks...jalannya belum beraspal, harus lewat sungai yg leubarrrrr aku gakk sangguuupppp
ya wis ah, q baca dari sini ajaa |
 | Dia salah satu penulis di "Relawan Merapi" khan ya
aku udah baca kereennnnnnn salam kenal buat mas Arif *salut* *jempol* |
 | numpang baca dan menyimak |
 | hebat dan seru ya kisahnya,, jadi mau ngintip blognya juga.. tfs mba anaz :) |
 | wow... sungguh dedikasi yang patut ditiru salam buat mas arif |
 | subhanallah..
masih ada yang seperti beliau..
semoga selalu istiqomah ya pak.. |
 | Ini foundationnya sapa yaa.. Pernah liat iklannya Indonesia mengajar.. Program bagus untuk pemerataan pendidikan. |
 | Tfs mbak Anaz, saya jadi merinding bacanya :(
|
 | Padahal papua indah bgt ya.. |
 | Wkwkwkw posisi favorit!!! |
 | selalu terharu dan bangga lihat tulisan atau foto2 pengajar muda... andai aku masih muda.... iih pengen banget deh jadi pengajar muda |
 | Foto2nya mantap..apalagi yg upacara bendera itu.. |
 | Subhanallah...salut bener2 dg semangatnya |
 | Assalamualaikum. Subhanallah, saya sebenarnya tak layak dibegitukan, masih banyak kealpaan, beneran. Saya, dan teman-teman di Indonesia Mengajar hanya sebagian kecil dari pejuang-pejuang tangguh yang sebenarnya masih banyak tersebar di Indonesia, bahkan dunia, seperti anda sekalian. Waduh, Mbak Anaz ini, sudah mbak, biasa saja. Di kampung penempatanku biasa saja. Yang kutulis hanya diksi sederhana tentang keadaan yang ada di mata dan perasaan saya. Terlalu subyektif. Oya, salam kenal dulu untuk para senior semua. Waduh, maafkan saya. Saya ketagihan ngeblog justru saat saya sedang sering-seringnya jauh dari monitor laptop/PC. Rumah saya di dunia maya itu sampai kadang terbengkalai. Dan sekarang, pihak Indonesia Mengajar telah menyediakan rumah singgah juga di bangunan sebelah. Untuk mengatasi kegalauan saya, secara terschedule tulisan saya akan otomatis terpublish seminggu sekali di rumah singgah saya yang baru itu. Tapi apapun, langkah kecil yang kita lakukan untuk melunasi janji-janji kemerdekaan bangsa ini sangatlah berarti, di manapun. Dan saya percaya yang hadir di jamaah multiplyiah di sini pasti juga menggerakkan jiwa raganya untuk ikut mendayung menuju pulau impian republik ini. Beribu maaf, mungkin ada kata-kata saya yang kurang layak ataupun berlebihan. Dan mohon maklum jika rumah saya di MP kurang terawat. Mungkin akan sering dijumpai tulisan saya di http://blog.indonesiamengajar.org/pm2ariflukman/Terima kasih banyak atas jalinan ukhuwah ini. Salam semangat dari Papua. Wassalamualaikum |
 | wah, mbak anaz juga berteman dgn arif tho? saya kenal arif (di fb) gara2 nyari foto brebes. terkaget2 setelah tau dia juga orang brebes, jadilah saya menawarkan diri utk jadi teman di fb. lebih terkaget2 lagi setelah tau dia lolos seleksi indonesia mengajar dan ditempatkan di papua. salut dan bangga punya 'sedulur brebes' seperti dia. :-) |
 | wah, mbak anaz juga berteman dgn arif tho? saya kenal arif (di fb) gara2 nyari foto brebes. terkaget2 setelah tau dia juga orang brebes, jadilah saya menawarkan diri utk jadi teman di fb. lebih terkaget2 lagi setelah tau dia lolos seleksi indonesia mengajar dan ditempatkan di papua. salut dan bangga punya 'sedulur brebes' seperti dia. :-) |
 | Salam ya untuk mas Arief, semoga kenekadannya menceburkan diri di tengah-tengah mereka yang tertinggal jadi bekal untuknya memimpin bangsa ini di masa datang. Kita butuh orang seperti mas Arief yang mau kerja keras. Dan tentunya, tahan banting. |
 | anazkia wrote on Jul 29, '11, edited on Jul 29, '11 Mbah Marto demen banget sih sama photo itu  |
 | di Fak-fak ada kantor daerah instansi saya lo, mbak, namanya Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara... tersebar dari ujung Barat mpe TImur Indonesia, utara ke Selatan pun ada.... sebut saja... Lhokseumawe,Takengon, Padang Sidempuan, Rantau Prapat, Rengat, Painan (of course iyalah hehehe), Sijunjung, Kuala tungkal, Lahat, Liwa, Curup, Manna, Singkawang, Pangkalan Bun, Nunukan, Tanjung, Sinjai, Kotamobagu, Toli-toli, Tahuna, Tual, Nabire, Fak-fak, Larantuka, Sumbawa Besar, Ruteng, Ende, banyak deh pokoknya
tapi tetep dah salut ma Masnya.. kalau kantor saya tuh udah dikasih fasilitas tersendiri |
 | hanya satu kata, AJIIIIIIIIIIIIIIIIPPPP!!! |
 | Indonesia Mengajar... Salah satu teman kontrakan saya positif sebagai Pengajar Muda jilid ketiga. Saya sudah wanti-wanti dia agar rajin menulis pengalamannya selama ngajar nantinya. Moto IM benar-benar menggugah dan itu terejawantahkan dalam diri pribadi para PM: Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi.
Pengajar Muda Arif Lukman Hakim, satu buktinya, Insya Allah. |
 | subhanalloh keren banget..bekgronnya laut... |
 | instansi saya mutasinya nasional.... jadi bisa aja dipindah dari bagian Barat ke bagian TImur dalam seketika... hohoho begitulah |
 | keren deh.. semuanya keren cerita ama fotonya okeh.. |
 | Selalu terharu dengan anak-anak bangsa yang mau peduli akan pendidikan hingga bersedia berada di daerah yang jauh....dari sentuhan "modern." Salam kenal buat mas Lukman. Makasih ya, Naz, buat jurnalnya. |
 | Jadi mau ke Papua untuk melihat indahnya Indonesia Timur ya, Ana? |
 | Mbak aku juga akhirnya baca ini, tergugu haru... betapa Papua butuh banyak Arif2 lain, kalau lihat PILDACIL ada sosok Nano asal Papua yang sering membuat hatiku mengharu biru memdengar tausyahnya juga bacaan Al Qur'annya, semoga banyak Nano2 lain di Papua. Aku juga punya adik tingkat yang sekarang di Papua, dia memang bercita2 untuk PTT di sana, senang melihat sekarang dia meraih citanya. *jadi mikir bagaimana kalau mereka kita kenalkan yuk...
|
 | tempatnya indah
hiks terharu |
| |