 Aku mengenalinya pada awal tahun 2002, di sebuah komunitas, Rumah Dunia. Sore itu, aku bersama dengan seorang teman untuk pertama kalinya datang berkunjung ke Rumah Dunia.
Saat datang, di situ sudah berkumpul beberapa orang. Setelah berkenalan, baru aku tahu nama masing-masing (seingatku, aku, Mutmainah, Najwa fadia, Krisna, Qizing La Aziva, Endang Rukmana, Adkhilni, Muhzen Den, Firman Venayaksa juga Ibnu) Dan Ibnu, sedang berbicara di depan teman-teman lainnya. Sebagai the passiver (yang pendiam juga malu-maluin), dan niat datang ke situ hanya ingin melihat perpustakaannya Mas Gong, aku diam saja mendengarkan dan memperhatikan. Pun dengan salah seorang temanku, kami, pendengar setia...
Pertemuan pertama di Rumah Dunia, Ibnu dan beberapa temannya membahas beberapa agenda. Tentang kepengurusan, juga melanjutkan pertemuan-pertemuan yang akan datang. Menjelang petang, kami beranjak pulang. Kami jalan beriringan, kemudian berpisah di persimpangan jalan. Aku, Najwa Fadia, Mutmainah dan Ibnu, mengambil jalan pintas.
Bertiga, (aku, Najwa dan Mutmainah) jalannya bareng-bareng, sementara Ibnu melesat jauh di depan kami. Sesekali, ia berhenti menunggu kami. Setelah dekat dengan jaraknya, lagi-lagi Ibnu mendahului kami. Sampai di pusat kota Serang, kami berpisah. Aku dan Mutmainah pulang ke Cilegon. Senentara Najwa fadia, kembali ke kosannya di Ciceri-Serang.
Itulah, awal pertemuanku dengan Ibnu. Buatku, Ibnu adalah sosok pribadi yang unik. cerdas, kutu buku dan tegas dalam tindakannya. Saat itu, ia masih duduk di semester 7 STAIN SMHB (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Sultan Maulana Hassanuddin Banten) Serang. Sekarang menjadi IAIN (Institut Agama Islam Negeri)
Selama mengenalinya, aku jarang sekali ngobrol dengan Ibnu. hanya sesekali, itupun saat aku ada keperluan, misalnya meminjam buku. Pernah, ada orang yang bertanya dan mencari nama, Ade. Karena aku tak pernah mendengar nama itu, dan setahuku di Rumah Dunia nggak ada nama Ade, aku menggeleng. Dan keukeuh, mentiadakan nama Ade. Najwa fadia, dari jauh senyum-senyum sendiri. Rupanya, Ade, adalah nama asli Ibnu. Najwa dan Ibnu memang sudah kenal sejak lama.
Tak lama setelah aktif di Rumah Dunia, Ibnu menetap di Rumah Dunia, Ia menjadi volunteerpertama di sana. Bahkan ia melepaskan jabatannya di BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) STAIN
Meski jarang bertegur sapa, Ibnu mempunyai daya ingat yang kuat. Mungkin ini juga imbas dari rajinnya Ibnu membaca buku. Ibnu, memang kutu buku. Ia selalu jauh melebihi kami dalam hal ilmu. Setiap ada kesempatan diskusi, dialah moderator. Pernah, saat sekian bulan (hampir bertahun) tidak bertemu, saat Rumah Dunia mengadakan Writing Camp di Anyer, di saat yang lain angakatan pertama Rumah Dunia tidak begitu mengingatiku kecuali Najwa, Ibnu, masih mengenaliku.
Menurut Najwa, Ibnu terlahir dari keluarga biasa-biasa saja. Di salah satu kota kecil, Pandeglang. Tapi ia murid yang cerdas. Aku tak banyak mengetahui kisahnya. Sejak tinggal di Malaysia, hubunganku dengan Rumah Dunia total terhenti. Aku hanya sesekali mengunjungi websitenya. Tahun 2007 lalu, aku masih aktif mengunjungi web Rumah Dunia. Membaca tulisan-tulisan teman yang lain.
Sekali itu, aku menemukan jurnal perjalanannya Ibnu disertai dengan fotonya. Aku pikir, ia ada di Banten lama rupanya itu sebuah foto di Belanda. Hampir tidak percaya. Aku baca-baca lagi lebih jelas dan rupanya memang betul, Ibnu mendapatkan beasiswa S2 di Belanda.Subhanallah...
Kebetulan, saat itu aku mengikuti milis wong banten. Dari milis juga, aku kembali dapat berinteraksi dengan Ibnu melalui yahoo mesengger. Dan hebatnya Ibnu, lagi-lagi dia masih mengenaliku meskipun tanpa foto. Padahal, Adkhilni dan Endang Rukmana yang novel-novelnya best seller dari gramedia, sudah tidak mengingatiku lagi. Kecuali, ingat-ingat lupa ketika berjumpa di facebook.
Takjub! mendengar kisah-kisahnya dari Leiden. Di sana, ia bertemu banyak orang. Ibnu juga berkisah tentang Pak Mintarjo, seorang lelaki tua yang tidak bisa pulang ke negerinya, Indonesia, karena masuk dalam daftar milik pemerintah sebagai orang komunis.
Ibnu, kini sudah kembali pulang ke Indonesia. Program S2nya sudah selesai. Setahun lalu, dia menikah. Dan kabar terakhir aku dengar, ia akan melanjutkan S3nya di Jerman. Semoga kesuksesan selalu ada padamu, Ibnu.
Ingat ketika di rumah dunia dulu. Kebanyakan dari kami adalah para remis (remaja miskin) yang datang ke Rumah Dunia dengan satu tekad, belajar menulis. Pun kami sering kekurangan ongkos saat pulang. Pernah sekali itu, aku dan Najwa meminjam uang Rp.5000 kepada Ibnu dibagi dua. Untuk ongkos naik angkot Najwa ke Ciceri, dan selebihnya untuk ongkos aku ke Cilegon.
Tatkala hendak mengembalikan uang tersebut, Ibnu menolaknya. Semoga kehidupanmu dilimpahi keberkahan. Insya Allah. Usahamau, semangatmu membuatku berpikir, tidak ada yang mudah dalam hidup. kerja keras dan semangat menentukan masa depan.
 | salut buat Ibnu ... Semangat terus ... |
 | Hmm, kebaikan itu walaupun nampak kecil namun bisa sangat berarti utk org lain ya, bahkan bisa diingat oleh si penerima hingga bertahun-tahun kemudian. Jangan pernah meremehkan perbuatan baik sekecil apapun (belajar dari Ibnu) Tfs mbak :) |
 | 5000 itu cukup buat ongkos dibagi dua? tahun berapa ya? semoga jaya selalu ya ibnu-nya.. bahagia deh punya temen2 seperti mereka.. |
 | Thn 2003 ongkos angkot bukannya naek. Eh ntu mah jkt gak mungkin mau d banyak 1000 :) btw salut dengan ibnu.. |
 | semangat dan maju terus buat Ibnu...
|
 | Jadi anaz asli Jakarta yaa? ^_^ Semoga suatu saat bisa ketemu lagi sama temennya yang keren itu.. |
 | kenalin dong sama ibnu, naz. ntar aku bagiin permen :P |
 | Rajin pangkal pandai. Masih berlaku. Sayang yg tidak berlaku SPP kuliah negeri, naik terus |
 | jadi tahu tentang beliau...terima kasih anaz
:) |
 | sungguh teman yang sangat bersahabat ... |
 | Mimpi... Itu kata kuncinya. Mimpi yang diraih lewat usaha yang nggak gampang, wah, aku malah nggak bisa ngomong apa-apa ngeliat Mas Heri dengan segala didikannya yang hebat. Salut... |
 | luqmanhakim wrote on Oct 13, '10, edited on Oct 13, '10 Koreksi ya Naz, nama belakangnya pasti bukan 'Avecina', tapi 'Avecenia', itu nama latin dari Ibnu Sina... |
 | subhanallah...mmg org2 yg suka memberi bantuan di kemudian hari lbh 'sukses' krnnya... |
| |