Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryOct 12, '10 9:54 PM
for everyone
Aku mengenalinya pada awal tahun 2002, di sebuah komunitas, Rumah Dunia. Sore itu, aku bersama dengan seorang teman untuk pertama kalinya datang berkunjung ke Rumah Dunia. 

Saat datang, di situ sudah berkumpul beberapa orang.  Setelah berkenalan, baru aku tahu nama masing-masing (seingatku, aku, Mutmainah, Najwa fadia, Krisna, Qizing La Aziva, Endang Rukmana, Adkhilni, Muhzen Den, Firman Venayaksa juga Ibnu) Dan Ibnu, sedang berbicara di depan teman-teman lainnya. Sebagai the passiver (yang pendiam juga malu-maluin), dan niat datang ke situ hanya ingin melihat perpustakaannya Mas Gong, aku diam saja mendengarkan dan memperhatikan. Pun dengan salah seorang temanku, kami, pendengar setia...

Pertemuan pertama di Rumah Dunia, Ibnu dan beberapa temannya membahas beberapa agenda. Tentang kepengurusan, juga melanjutkan pertemuan-pertemuan yang akan datang. Menjelang petang, kami beranjak pulang. Kami jalan beriringan, kemudian berpisah di persimpangan jalan. Aku, Najwa Fadia, Mutmainah dan Ibnu, mengambil jalan pintas. 

Bertiga, (aku, Najwa dan Mutmainah) jalannya bareng-bareng, sementara Ibnu melesat jauh di depan kami. Sesekali, ia berhenti menunggu kami. Setelah dekat dengan jaraknya, lagi-lagi Ibnu mendahului kami. Sampai di pusat kota Serang, kami berpisah. Aku dan Mutmainah pulang ke Cilegon. Senentara Najwa fadia, kembali ke kosannya di Ciceri-Serang.

Itulah, awal pertemuanku dengan Ibnu. Buatku, Ibnu adalah sosok pribadi yang unik. cerdas, kutu buku dan tegas dalam tindakannya. Saat itu, ia masih duduk di semester 7 STAIN SMHB (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Sultan Maulana Hassanuddin Banten) Serang. Sekarang menjadi IAIN (Institut Agama Islam Negeri) 

Selama mengenalinya, aku jarang sekali ngobrol dengan Ibnu. hanya sesekali, itupun saat aku ada keperluan, misalnya meminjam buku. Pernah, ada orang yang bertanya dan mencari nama, Ade. Karena aku tak pernah mendengar nama itu, dan setahuku di Rumah Dunia nggak ada nama Ade, aku menggeleng. Dan keukeuh, mentiadakan nama Ade. Najwa fadia, dari jauh senyum-senyum sendiri. Rupanya, Ade, adalah nama asli Ibnu. Najwa dan Ibnu memang sudah kenal sejak lama. 

Tak lama setelah aktif di Rumah Dunia, Ibnu menetap di Rumah Dunia, Ia menjadi volunteerpertama di sana. Bahkan ia melepaskan jabatannya di BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) STAIN

Meski jarang bertegur sapa, Ibnu mempunyai daya ingat yang kuat. Mungkin ini juga imbas dari rajinnya Ibnu membaca buku. Ibnu, memang kutu buku. Ia selalu jauh melebihi kami dalam hal ilmu. Setiap ada kesempatan diskusi, dialah moderator. Pernah, saat sekian bulan (hampir bertahun) tidak bertemu, saat Rumah Dunia mengadakan Writing Camp di Anyer, di saat yang lain angakatan pertama Rumah Dunia tidak begitu mengingatiku kecuali Najwa, Ibnu, masih mengenaliku.

Menurut Najwa, Ibnu terlahir dari keluarga biasa-biasa saja. Di salah satu kota kecil, Pandeglang. Tapi ia murid yang cerdas. Aku tak banyak mengetahui kisahnya. Sejak tinggal di Malaysia, hubunganku dengan Rumah Dunia total terhenti. Aku hanya sesekali mengunjungi websitenya. Tahun 2007 lalu, aku masih aktif mengunjungi web Rumah Dunia. Membaca tulisan-tulisan teman yang lain.  

Sekali itu, aku menemukan jurnal perjalanannya Ibnu disertai dengan fotonya. Aku pikir, ia ada di Banten lama rupanya itu sebuah foto di Belanda. Hampir tidak percaya. Aku baca-baca lagi lebih jelas dan rupanya memang betul, Ibnu mendapatkan beasiswa S2 di Belanda.Subhanallah...

Kebetulan, saat itu aku mengikuti milis wong banten. Dari milis juga, aku kembali dapat berinteraksi dengan Ibnu melalui yahoo mesengger. Dan hebatnya Ibnu, lagi-lagi dia masih mengenaliku meskipun tanpa foto. Padahal, Adkhilni dan Endang Rukmana yang novel-novelnya best seller dari gramedia, sudah tidak mengingatiku lagi. Kecuali, ingat-ingat lupa ketika berjumpa di facebook.

Takjub! mendengar kisah-kisahnya dari Leiden. Di sana, ia bertemu banyak orang. Ibnu juga berkisah tentang Pak Mintarjo, seorang lelaki tua yang tidak bisa pulang ke negerinya, Indonesia, karena masuk dalam daftar milik pemerintah sebagai orang komunis. 

Ibnu, kini sudah kembali pulang ke Indonesia. Program S2nya sudah selesai. Setahun lalu, dia menikah. Dan kabar terakhir aku dengar, ia akan melanjutkan S3nya di Jerman. Semoga kesuksesan selalu ada padamu, Ibnu.

Ingat ketika di rumah dunia dulu. Kebanyakan dari kami adalah para remis (remaja miskin) yang datang ke Rumah Dunia dengan satu tekad, belajar menulis. Pun kami sering kekurangan ongkos saat pulang. Pernah sekali itu, aku dan Najwa meminjam uang Rp.5000 kepada Ibnu dibagi dua. Untuk ongkos naik angkot Najwa ke Ciceri, dan selebihnya untuk ongkos aku ke Cilegon.

Tatkala hendak mengembalikan uang tersebut, Ibnu menolaknya. Semoga kehidupanmu dilimpahi keberkahan. Insya Allah. Usahamau, semangatmu membuatku berpikir, tidak ada yang mudah dalam hidup. kerja keras dan semangat menentukan masa depan.

Fotonya ngambil dari website rumah dunia

27 CommentsChronological   Reverse   Threaded
evanda2 wrote on Oct 12, '10
salut buat Ibnu ...
Semangat terus ...
evanda2 wrote on Oct 12, '10
eh aku pertamax yaa
zaffara wrote on Oct 12, '10
Hmm, kebaikan itu walaupun nampak kecil namun bisa sangat berarti utk org lain ya, bahkan bisa diingat oleh si penerima hingga bertahun-tahun kemudian. Jangan pernah meremehkan perbuatan baik sekecil apapun (belajar dari Ibnu)
Tfs mbak :)
tintin1868 wrote on Oct 12, '10
5000 itu cukup buat ongkos dibagi dua? tahun berapa ya?
semoga jaya selalu ya ibnu-nya.. bahagia deh punya temen2 seperti mereka..
anazkia wrote on Oct 12, '10
evanda2 said
salut buat Ibnu ...
Semangat terus ...
Sama, Mbak. Salut juga :)
anazkia wrote on Oct 12, '10
evanda2 said
eh aku pertamax yaa
Iyah :)
anazkia wrote on Oct 12, '10
zaffara said
Hmm, kebaikan itu walaupun nampak kecil namun bisa sangat berarti utk org lain ya, bahkan bisa diingat oleh si penerima hingga bertahun-tahun kemudian. Jangan pernah meremehkan perbuatan baik sekecil apapun (belajar dari Ibnu)
Tfs mbak :)
Iyah, Mbak. Anaz masih inget Ibnu ngasih uang Rp.5000 ke kita :) gak mau dikembaliin
anazkia wrote on Oct 12, '10
5000 itu cukup buat ongkos dibagi dua? tahun berapa ya?
semoga jaya selalu ya ibnu-nya.. bahagia deh punya temen2 seperti mereka..
Iyah, Mbak Cukup. Tahun 2003an kayaknya. Soalnya Anaz masih SMU pas waktu itu. Dari Ciloang ke Ciceri Rp.1000. Yang Rp.4000 untuk Anaz. Rp. 2000 dari Serang ke Cilegon... Masih ada sisa
nitafebri wrote on Oct 12, '10
Thn 2003 ongkos angkot bukannya naek. Eh ntu mah jkt gak mungkin mau d banyak 1000 :)
btw salut dengan ibnu..
mlatiku wrote on Oct 12, '10
semangat dan maju terus buat Ibnu...
afirdausi wrote on Oct 12, '10
Jadi anaz asli Jakarta yaa? ^_^
Semoga suatu saat bisa ketemu lagi sama temennya yang keren itu..
nearer wrote on Oct 12, '10
kenalin dong sama ibnu, naz. ntar aku bagiin permen :P
agamfat wrote on Oct 13, '10
Rajin pangkal pandai. Masih berlaku.
Sayang yg tidak berlaku SPP kuliah negeri, naik terus
amarylli wrote on Oct 13, '10
jadi tahu tentang beliau...terima kasih anaz

:)
anazkia wrote on Oct 13, '10
Thn 2003 ongkos angkot bukannya naek. Eh ntu mah jkt gak mungkin mau d banyak 1000 :)
btw salut dengan ibnu..
2003 belum begitu mahal, Mbak. Serang-Cilegon masih 2000 hehehe... Dari depan perumahan ke dalam naik angkot lagi bayar 1000.

Anaz juga salut! :)
anazkia wrote on Oct 13, '10
mlatiku said
semangat dan maju terus buat Ibnu...
Semoga...
anazkia wrote on Oct 13, '10
Jadi anaz asli Jakarta yaa? ^_^
Semoga suatu saat bisa ketemu lagi sama temennya yang keren itu..
Bukan, itu kan dah ditulis, di Serang-Cilegon, Banten :)
Amin, Insya Allah
anazkia wrote on Oct 13, '10
nearer said
ntar aku bagiin permen
Gak mau dikasih permen :)
anazkia wrote on Oct 13, '10
agamfat said
SPP kuliah negeri, naik terus
Untung saya nggak kuliah, Pak :)
anazkia wrote on Oct 13, '10
jadi tahu tentang beliau...terima kasih anaz

:)
Sama2, Mbak :)
hwibntato wrote on Oct 13, '10
sungguh teman yang sangat bersahabat ...
anazkia wrote on Oct 13, '10
sungguh teman yang sangat bersahabat ...
Yah, betul sekali :)
luqmanhakim wrote on Oct 13, '10
Mimpi... Itu kata kuncinya.
Mimpi yang diraih lewat usaha yang nggak gampang, wah, aku malah nggak bisa ngomong apa-apa ngeliat Mas Heri dengan segala didikannya yang hebat. Salut...
luqmanhakim wrote on Oct 13, '10, edited on Oct 13, '10
Koreksi ya Naz, nama belakangnya pasti bukan 'Avecina', tapi 'Avecenia', itu nama latin dari Ibnu Sina...
anazkia wrote on Oct 13, '10
Koreksi ya Naz, nama belakangnya pasti bukan 'Avecina', tapi 'Avecenia', itu nama latin dari Ibnu Sina...
Makasih koreksinya, Mas Luqman :)
meylafarid wrote on Oct 13, '10
subhanallah...mmg org2 yg suka memberi bantuan di kemudian hari lbh 'sukses' krnnya...
anazkia wrote on Oct 13, '10
subhanallah...mmg org2 yg suka memberi bantuan di kemudian hari lbh 'sukses' krnnya...
Amin, Allahumma amin...
Add a Comment